Pasti Angkut
Beranda/Blog/Mitigasi Bencana dengan Merawat Tanah

Mitigasi Bencana dengan Merawat Tanah

Pasti Angkut / 27 November 2022
Mitigasi Bencana dengan Merawat Tanah | Pasti Angkut

Sumber gambar: Instagram/@lidahkita_project

Senin, 21 November 2022, menjadi hari mengerikan bagi masyarakat Cianjur, Jawa Barat. Pada hari tersebut Cianjur diguncang gempa tektonik bermagnitudo 5,6. Korban meninggal akibat tragedi tersebut per Sabtu (26/11) mencapai 318 orang. Selain korban jiwa, banyak bangunan rumah yang luluh lantak akibat gempa. 

Tragedi bencana alam tersebut tentu menjadi pembelajaran bagi kita semua. Bahwa adanya kesadaran tentang hidup berdampingan dengan bencana memang penting. Setidaknya, kita bisa paham tentang cara mitigasi bencana. 

Mitigasi bencana sangat banyak contohnya. Seperti yang terjadi di Cianjur tersebut, salah satu yang paling disorot adalah tipikal bangunan rumah warga. Bangunan yang kena gempa di Cianjur mayoritas sudah berusia puluhan tahun. Dan, banyak korban akibat ambruknya bangunan rumah

Namun, selain dari faktor bangunan, mitigasi bencana juga bisa kita lakukan dengan menjaga lingkungan alam. Salah satunya adalah tidak membuang sampah sembarangan. 

Membuang sampah sembarangan sangat berdampak pada lingkungan, terutama pada tanah. Sampah yang tertimbun dengan tanah akan menyebabkan tanah menjadi tercemar dan erosi. Keberadaan sampah menjadi salah satu bahaya laten terhadap tanah ketika tidak terkelola dengan baik.  

Apalagi, keberadaan sampah dewasa ini sangat beragam jenisnya. Seperti halnya anorganik dan residu, misalnya. Sampah anorganik terlihat seperti hadirnya plastik, yang kemudian telah menjadi ancaman tersendiri bagi tanah. 

Plastik sangat susah untuk diurai. Seperti yang ditampilkan postingan akun Instagram Lidah Kita misalnya. Akun tersebut menampilkan salah satu bungkus minuman saset yang berbahan plastik. Seperti yang tertera di gambar, sampah plastik itu bertitimangsa kadaluwarsa pada November 2006, 16 tahun yang lalu. 

Keadaan bungkus minuman saset yang berusia 16 tahun itu terlihat masih utuh. Hal itu setidaknya telah membuktikan bahwa plastik memang sangat susah untuk diurai. Butuh ratusan bahkan ribuan tahun untuk mengurai plastik. 

Sampah plastik kita hasilkan saban hari. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat total sampah nasional pada 2021 mencapai 68,5 juta ton. Dari total jumlah itu, 17 persen atau sebanyak 11,6 juta ton disumbang oleh sektor sampah plastik.  

Jumlah yang tidak sedikit. Jika sampah plastik sebanyak itu tidak dikelola secara bijak, maka akan sangat membahayakan bagi tanah. Tanah seharusnya membutuhkan penghijauan seperti adanya reboisasi, bukan timbunan sampah dari manusia. 

Maka, membudayakan bijak dalam berplastik ini memang sangat penting. Banyak dari kita ketika terjadi bencana masih menyalahkan alam. Namun, apakah kita pernah menyalahkan diri kita sendiri, dalam hal ini kita sebagai manusia? 

Manusia adalah bagian dari alam. Sudah sepatutnya manusia menjaga alam. Dengan tidak membuang sampah sembarangan adalah salah satu contoh yang bisa kita lakukan sebagai tindakan nyata. 

Mitigasi bencana dengan merawat tanah bisa terepresentasi dengan tindakan itu.


*Pasti Angkut/Nardi

Bagikan

mail